Ifthor with Padrovers

Sabtu, 20 September.

Masih sekitar pukul empat sore ketika saya sampai di Semanggi. Akhirnya saya memilih untuk menunggu di Gramedia, sekalian mencari beberapa National Geographic untuk kantor. Sayang sekali, yang ada hanya edisi bulan Agustus dan September. Serta satu edisi khusus tentang global warming. Padahal saya benar-benar ingin membaca edisi entah bulan apa, yang membahas tentang Stonehenge itu.

Cukup lama saya berputar-putar di bagian majalah dan buku impor. Memang ada beberapa buku menarik seperti ensiklopedi sayur-sayuran dan sebuah buku tentang berkebun. Tapi bukan itu yang saya cari. Lagipula, saya masih belum memerlukan ensiklopedi seharga ratusan ribu hanya untuk membedakan wortel, tomat, dan selada air kok, hehehe. Mmm, yah, intinya saya mulai bosan setelah hampir satu jam berada di tempat yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi itu.

vegetables

Rencananya, kami berdelapan (saya, Mel, Ganis, Sandya, Dina, Mere, Brasto dan nyonya) akan bertemu di Solaria. Saya pikir reservasi tempat sudah diurus, dan kami tinggal duduk menunggu saat berbuka puasa di sana. Ternyata, beberapa saat setelah Mel datang, saya ditelepon dan dikabari bahwa belum ada yang bisa memesan tempat, dan Mere, yang seharusnya menjadi event organizer acara sore ini, masih terjebak macet entah di mana. Akhirnya, saya dan Mel cepat-cepat membayar majalah-majalah itu dan keluar dari Gramedia (saya sempat menyambar ‘Nice Girls Don’t Get the Corner Office’—buku yang sangat menarik tentang kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan wanita dan menghambat karir mereka (bukan chicklit 🙂 ).

nicegirl

Sedikit menyesali kabar yang datang terlambat itu. Maksud saya, saya sudah ada di seberang Solaria sejak satu jam yang lalu, dan seandainya saya tahu belum ada seorang pun yang memesan tempat, saya pikir saya bisa memesan tempat di situ sejak tadi. Ternyata, Solaria tidak melayani pemesanan tempat. Akhirnya, kami berdua memutuskan untuk memesan tempat di Olive. Alhamdulillah masih bisa.

Singkat cerita, kami duduk di bawah lampu temaram di restoran yang ramai itu, dan setelah menyesap sedikit frappe green tea panas (ya, saya meminta yang panas karena pilek saya yang semakin menjadi itu, dan surprise, mereka menyediakannya!), saya, Mel, dan Sandya menuju arena bazaar sehat yang disponsori salah satu obat maag itu untuk sholat maghrib.

Masya Allah, betapa sulitnya untuk memenuhi kewajiban itu hari ini. Kami harus berputar-putar lantai 3A hanya untuk menemukan bahwa semua toilet yang ada tidak memungkinkan untuk bersuci secara sempurna, apalagi berwudlu. Akhirnya kami harus naik ke musholla di lantai lima, di mana begitu banyak orang sudah mengantri untuk wudlu dan sholat. Luar biasa panasnya di dalam musholla itu. Dan untuk keluar, membutuhkan usaha ekstra keras (makasih Mel, San, udah mau nungguin saya). Setelah berwudlu, kami kembali ke lantai 3A untuk sholat di sana.

Alhamdulillah, di dalam musholla dadakan itu, udara sejuk dan ada jauh lebih banyak ruang dibandingkan dengan musholla di lantai lima. Memang lelah, berjalan dari lantai 3A ke lantai lima lalu kembali lagi, tapi semua itu worthy, karena tentu saja di sini orang bisa menunaikan sholat dengan lebih khusyuk.

Ketika kami kembali ke Olive, tumis pakcoy, sup iga, dan steak ayam pesanan kami sudah dingin dan keras. Begitu juga green tea frappe saya yang ketika ditinggal tadi begitu segar dan hangat. Sayang sekali ya. Tapi semua percakapan dan jokes dari semua orang membuat hal itu tidak terlalu berarti. Bukankah kebersamaan itu yang kami cari?

Sekitar pukul setengah sembilan kami berpisah. Mere, Dina, Sandya dan saya masih akan ke Giant sebelum pulang, sedangkan yang lain memutuskan untuk pulang saat itu juga.

Cukup lama kami berputar-putar di Giant. Memilih-milih cemilan sambil bercerita tentang hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini. Pekerjaan, teman-teman, rencana-rencana… Sampai suatu saat di mana saya terpisah dari mereka, dan akhirnya saya, yang mulai kecapekan, memilih untuk menyingkir ke sebuah kafe kecil untuk secangkir coklat hangat dan on line untuk mengecek pesan-pesan yang masuk.

Lelah. Mengantuk. Tapi di tengah ramainya suara mesin penghitung, percakapan-percakapan dan gemersik plastik, saya seperti menemukan oase. Saya larut dalam percakapan dua-layar yang konyol sampai ketiga orang sahabat saya itu muncul dengan belanjaan saya yang sudah mereka bayarkan (thanks a lot, Dina 😉 ) selain belanjaan mereka sendiri yang aneh-aneh itu 🙂

Sekitar pukul setengah sepuluh, kami keluar dari Plaza Semanggi. Saya, Dina, dan Sandya ke arah Senopati, dan Mere ke Cilandak (Cilandak, kan?).

Thanks for everyone for the nice evening. Hope we can meet again on September 28 for Laskar Pelangi the movie (we deliberately decided to miss the premier, hehehe). Love y’all. Till we meet again…

Next time we get together for an ifthor together:

  1. Selalu pastikan reservasi sudah dibuat, atau jika kalian benar-benar dying untuk menikmati mie goreng di restoran yang tak menerima reservasi itu, satu orang harus mau mengambil tempat dan menunggu di sana. Omong-omong, Celcius pilihan yang sangat bisa dipertimbangkan lho. Dan mereka menerima reservasi.
  2. Pergi ke musholla setidaknya lima belas menit sebelum adzan, ambil air wudlu dan duduk di musholla sampai waktu sholat tiba. Bawa air putih dalam botol sekedar untuk membatalkan puasa. Ini menghemat waktu, tenaga, dan menjamin hidangan buka puasa (serta green tea frappe panas favoritmu, tentunya) masih tetap panas ketika hendak disantap.
  3. Saat semua orang pergi sholat, tentu harus ada orang yang menjaga meja. Sebaiknya cowok yang diberi tugas itu, karena cowok memerlukan waktu yang lebih sedikit untuk wudlu dan semua itu (mereka nggak harus membuka dan merapikan jilbab, kan).

Advertisements

21 thoughts on “Ifthor with Padrovers

  1. hiyah, kumpulkumpul lagi, jeng 😀

    buku keduanya, sudah dibaca? bagus kah?

    ah, Laskar Pelangi itu, mogamoga udah ada di kota halaman pas pulang nanti *amin* 😀

  2. tanggal 28? ga mudik?
    saya nontonnya sepulang dari mudik saja lah, maklum di kampung ga ada 21, layar tancap aja nunggu ada orang hajatan dulu, hehehe….

  3. pakdhe heri:
    oh, mudik kok saya, jadi nontonnya Insya Allah bareng sama anak-anak tu tanggal 28 di Jogja (hahaha, bisa-bisa saya nonton film ini tiga kali nantinya ^^; karena janjian sama holy, nutri, dyra Insya Allah tanggal 27, dan entah sanggup atau tidak saya melewatkan premiernya 😛 )

  4. ifthor nya sepertinya menyenangkan…
    sabtu itu saya berbuka di jalanan dengan menenggak sebotol air mineral dan sebotol pocari sewot.
    trimakasih Tuhan masih memberi saya kesempatan berbuka puasa.

  5. loh, kenapa ga sekalian dibarengin ajah? aku sih gpp. temen”ku sendiri sih soale. too bad couldn’t come yesterday…

    bukber saya juga lumayan menyenangkan 🙂

    Janem, maaf ya…

  6. yang selalu bikin saya miris adalah sulitnya tempat ibadah di pusat2 keramaian -seperti mall dan sejenisnya-.. 😦

    btw, tips ifthor nomer 2 nya setuju sekali! sering saya seperti itu juga..

  7. mela: bosen kan? saya juga, hehehe 🙂 di jogja ae..

    udin: iya. seneng tapi capek. mm, pocari sweat *drooling*

    dyra: he’eh ya, apa gitu aja biar rame sekalian? tapi mau ngga ya mbak nutri sama holy?

    rhee chan: sebetulnya kalau dalam keadaan normal plangi udah lumayan karena punya musholla yang cukup oke (untuk ukuran mall), tapi selama ramadhan, aduh..
    Memang harusnya hal-hal seperti ini lebih diperhatikan, ya. Tapi kata mentor saya dulu, ada sisi positifnya, kita jadi ngga kelamaan di mall hehehe 🙂 (duh sebenernya tetep lama 😛 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s