j’aime.. ♥

1. Adrienne – the Calling

2. Pieces Don’t Fit – James Morrison

3. Just Like Heaven – Katie Melua

4. Could It Be Any Harder – the Calling

5. Say Something – Haven

6. Creep – Radiohead

7. Give Me A Reason – Utada Hikaru

8. Gentle Good Night – Vic Chou

9. Lemon Tree – Fools Garden

10. Fixing A Broken Heart – Indecent Obsession

The reasons? Nothing’s personal. But too personal, at the same time.

Lucky you who has read the list previously 😉

Pour Nutri: je peux. Saya bisa! 😀

Ah, jadi ingat. Listnya Nadya belum sempat saya tulis. Soon, I hope. Pardon, sorry, Naddy 😉

:)

Bestfriends

thanks for the teleconference last night, gals.

I really had a good time *albeit your mischievous jokes, gyaah..*

Hm, it is true that

Bestfriends2

Je t’aime beaucoup!! ^_^

special thanks to XL and M.S. who paid for the bill :lolz: 😀

Fifteen

She said:

so blog yang ‘itu’ dihapus ya?
hav u ever said that u have 5 blogs?
wow…chang’e…kurasa kau harus menghitung ulang…=b (at least we have 6)

Karena penasaran, akhirnya saya mendaftar blog-blog saya yang lama.

Jumlahnya? 15. Sama seperti angka favorit saya. But it’s coincidental, really. :lolz:

Heran juga saya, sama diri sendiri :P.

Next thing to do: men-delete blog-blog lama yang ngga penting. *Tapi kok sayang, yo?*

Untuk diperhatikan: blog saya yang ‘itu‘ nggak dihapus, kok. Malah barusan diapdet *haiyah, promosi 😛 *

Dan saya siap ditimpukin lagi, hahahahaha

Fifteen. Humm, jadi ingat Five for Fighting lagi. Fifteen, I’m alright with you… Yea I’m alright with that *berdoa semoga tidak ingin berpindah blog lagi 😉 *

I don’t want to.

truly, curiosity kills the cat.

i want to know no more.

i’ll leave if that way.

i want to remember you, the sides that you show to the world.

i don’t want to know more than that.


pour tout le monde:

forgive me for being sad again,

can’t help it.

Stupid, stupid girl :lolz:

Thanks to Encik Guru, now I know that I can get to Harmoni shelter via Pasar Baru, and thus, can save 8.000 rupiah a day 😀 . Okay, I’m so left by the train (aka ketinggalan kereta 😛 ) but the most important thing is: now I know.

Nice and cheap, yes, but this brand new route can take much longer time. Like yesterday. I had to wait for soo long before the bus finally arrived. And didn’t get any seat 😦

Cut to the part where someone rose from his seat and gave it to me. Ah, thank God! But that’s where the foolishness started.

Feeling so sleepy, I closed my eyes, thinking that there was still plenty time to rest before I arrived in Polda Metro Shelter.

Sounds began to fade, and I began to think..

What if this wasn’t inside transjakarta but a subway in London?

And I were not a girl who would start her bachelor’s degree this fall, but a girl taking her master’s in UK?

Would I be confused if I opened my eyes and it was all true?

And I did open my eyes and..

I missed my shelter!! Again!!!

What a stupid, stupid girl :lolz:

What so funny was the fact that I did feel confused when I opened my eyes. The difference is, it wasn’t even in UK and I was still the same me, nothing had changed 😆

But the journey through the tunnel near CBD Sudirman was definitely amazing. I felt like flying and I did let my hand stretched out. Well, a little bit 😉 because I was shy 😛

only reminiscing :)

Enam Juli Dua Ribu Delapan,

Malam itu, saya, Diah, dan Dina berjanji untuk bertemu di Senayan, karena di Pesta Buku, ada acara Ngobrol Seru Bersama Andrea Hirata. I didn’t really remember the details, except that I came late (old habit dies real hard! :lolz: ) and tried to find Diah in the crowd and stopped so sudden because I found two Jim Morrisson’s memoirs which was three hundred thousands rupiahs and one hundred and fifty thousand rupiahs (how expensive!! ]: ..)

And the next thing I knew, Diah and I sat near a big screen on which slides from Laskar Pelangi the movie was displayed. We ate wafer Timtam and drank sweet Pocari Sweat, and not so long after that, Hirata ssi arrived, with Salman Aristo and Mira Lesmana. Too bad Riri Riza wasn’t around.

And here’s some parts that I recorded. I’m sorry for taking so long to write the dialogs down and to put the story here. I’m such a lazy person :lolz: Right then, here they are. Enjoy! 😀

About the choice

Hirata ssi said, “Saya berdoa, jika suatu saat Laskar Pelangi difilmkan, yang menggarapnya adalah dua orang keriting itu [Mira Lesmana dan Riri Riza].”

“…Laskar Pelangi pernah akan dibuat sinetron, FTV, dan akan dibeli dengan harga yang sangat fantastik untuk dibuat e-book, dll.. Saya tidak pernah tertarik.” Mengapa? “Karena pertimbangan integritas.”

Pada suatu hari, akhirnya Riri Riza mengirim sms kepada Andrea, (“Doa saya terkabul,” said the latter.) kemudian mereka bertemu di sebuah kafe di Bandung, dan “Semakin kuat keyakinan saya bahwa Riri dan Mira adalah orang yang tepat karena mereka membaca Laskar Pelangi dengan cara yang berbeda dengan orang lain.”

“Ini teknis. Ketika seorang anak berangkat sekolah, di tengah jalan dihadang oleh serigala. Di dalam buku, saya tulis harimau. Di film, singa. Kebanyakan orang meributkan serigala, harimau, dan singa, tapi Riri dan Mira melihat danger, obstacle, hambatan bagi perjuangan seorang anak menuju sekolah. Semakin dalam mereka membaca, semakin dalam mereka mendalami dan memahami substansinya. Kadang-kadang saya berpikir orang-orang ini barangkali dalam beberapa hal lebih paham sastra daripada orang sastra sendiri. Saya pikir ini penting karena ada terlalu banyak misperception dalam membaca LP. Dan makin ke sana saya beruntung sekali karena film ini digarap oleh Mira dan Riri…”

Dan saya dan Diah mengobrol sendiri dan memandangi slide cuplikan adegan dalam LP saat Salman Aristo bercerita tentang entah apa, hehehe…

“Saya hanya terlibat dalam film ini sebagai teman ngobrol-ngobrol saja. Saya selalu berada di lokasi syuting pada waktu itu sebagai morale support saja buat temen-temen. Tapi saya sama sekali nggak ikut-ikut harus begini, harus begitu pemerannya karena ya itulah, sejak awal saya sudah berdoa agar bisa bekerja dengan orang-orang ini dan konsekuensinya adalah saya percaya betul dengan integritas mereka. Dan saya nggak tahu apa-apa soal film. Ketika seorang penulis memutuskan filmnya difilmkan, dia harus berani bertoleransi, harus berani menerima energi-energi baru dalam karya itu…”

Penonton lebih judging. Bagaimana?

“Mmm… begini pemikirannya, temen-temen.. Alhamdulillah Laskar pelangi cukup bagus acceptance-nya. Taruhlah misalnya kita mendekati [penjualan] satu juta eksemplar itu nyaris tidak ada artinya, buku itu tidak bergema di mana-mana.

“Di sini, peserta diskusi buku ada segini itu sudah luar biasa. Bayangkan, kita [Laskar Pelangi] mencapai satu juta itu dalam tiga tahun, sudah termasuk yang di luar negeri, tapi belum termasuk yang dibajak lho ya : )… Buku kita belum begitu berdaya.

“Nah, film, kawan-kawan, tahukah dirimu, dapat meraih enam juta penonton dalam satu bulan. Dan bila Laskar Pelangi nanti diputar di televisi, bisa menyentuh empat puluh juta orang Indonesia. Itu tidak mungkin dilakukan sebuah buku. Jadi ini adalah kesempatan untuk menyebarkan value-value dalam Laskar Pelangi dengan satu media yang mempunyai spektrum yang lebih luas. Jangan terburu-buru membuat judgement dan sungguh Laskar pelangi sudah diserahkan pada orang-orang yang tepat…”

Bagaimana dengan penulis skenario?

Salman Aristo said:

“Buat penulis skenario, saat dia memutuskan untuk menerima pekerjaan [mengadaptasi novel menjadi film] itu, dia sudah mengambil resiko untuk dimusuhi pembaca. Jadi ya sudah, percuma. Apapun yang dilakukan, hasilnya akan berbeda. Ini dua medium yang berbeda. Saya nggak akan capek ngomong bahwa ini bukan apple-apple comparison tapi apple-orange comparison. Saya akan bodoh sekali [jika saya] mencoba mengubah apel menjadi jeruk. Ya ini apel dan jeruk, ya biarkan saja.

“Ini pegangan seorang pengadaptasi, sebenarnya, bahwa apa yang membuat saya tertarik dan tergerak untuk mengadaptasi sebuah tulisan menjadi skenario, apa yang membuat saya tergerak dan jatuh cinta untuk mengadaptasi Laskar Pelangi, itulah yang akan saya keluarkan. Masalahnya apakah saya cukup sensitif untuk mengeluarkan apa yang membuat saya tertarik itu. Kalau masalah dimusuhi, sejak menulis kata pertama pun saya tahu akan dimusuhi…”

(and that, made him looked, I mean sounded, so cool :lolz: )

And here’s the part when Andrea Hirata got so sweet and shy :lolz:

A fan suddenly asked him something, I didn’t really got the question because it was drowned by people’s giggles and the laughters (I myself couldn’t stop giggling for almost two minutes or so. I guess :lolz: ). Heboh banget lah pokoknya waktu itu. And our Cicik was so shy, obviously salah tingkah and bowed his head, smiling shyly ^_^

And here’s how he answered that question:

“I am a dreamer, a real dreamer. Saya itu seorang pemimpi yang habis-habisan. Makanya kalau punya pacar nggak betah. Baru sebentar udah sumpek sama saya karena saya pemimpi. Dulu, ada film yang setiap tanggal 30 September selalu diputar. Impian saya sekarang, film Laskar Pelangi ini akan diputar setiap tanggal 02 Mei. Pada Hari Pendidikan Nasional, kita belajar dari sepuluh anak kecil di pulau terpencil di Belitong sana, kita belajar dari semangat mereka, perjuangan mereka untuk memperoleh pendidikan.”

Oke, kalimat terakhir memang nggak seratus persen persis, tapi siapa pula yang menyimak kalimat itu sampai akhir jika pembukanya sudah bikin heboh? ^ ^; *defense mode: on*

Dan tidakkah jawabannya agak nggak nyambung dengan pertanyaannya? ^^;

“Nah, pertanyaan tentang Arai, dan tentu banyak tentang Aling ya, [jawabannya] ada di Maryamah Karpov…” he continued.

Dan dengan kalimat terakhir itu, sesi tanya-jawab berakhir. Dilanjutkan dengan pembagian buku dan sesi tanda tangan. Orang-orang mulai membentuk barisan.

Baru saja dimulai, terdengar pengumuman bahwa sesi tanda tangan hanya sepuluh menit (WHATTT???!!). And the next thing I knew, orang-orang entah siapa itu sudah membawa Andrea pergi dari kerumunan, masuk ke dalam sebuah mobil yang langsung melaju, membawanya pergi sementara para penggemar masih mengikuti sampai mobil itu tak terkejar lagi.

Detik itu, saya menyadari Hirata ssi bukanlah lagi orang yang sama dengan yang berbincang dengan saya dan diah di bawah pohon dengan dengan deretan lampion itu, setahun yang lalu.

Malam itu, kami habiskan dengan menikmati semangkuk cap cay dan teh manis hangat. Berbicara sampai lewat tengah malam. Dan sepanjang sisa malam itu, theme songnya adalah Ska8er Boi dan, sama dengan lagu yang, Subhanallah sekali, tiba-tiba mengalun dari media player saya: Big Yellow Taxi. Alasannya? Hmm, rahasia 😉