only reminiscing :)

Enam Juli Dua Ribu Delapan,

Malam itu, saya, Diah, dan Dina berjanji untuk bertemu di Senayan, karena di Pesta Buku, ada acara Ngobrol Seru Bersama Andrea Hirata. I didn’t really remember the details, except that I came late (old habit dies real hard! :lolz: ) and tried to find Diah in the crowd and stopped so sudden because I found two Jim Morrisson’s memoirs which was three hundred thousands rupiahs and one hundred and fifty thousand rupiahs (how expensive!! ]: ..)

And the next thing I knew, Diah and I sat near a big screen on which slides from Laskar Pelangi the movie was displayed. We ate wafer Timtam and drank sweet Pocari Sweat, and not so long after that, Hirata ssi arrived, with Salman Aristo and Mira Lesmana. Too bad Riri Riza wasn’t around.

And here’s some parts that I recorded. I’m sorry for taking so long to write the dialogs down and to put the story here. I’m such a lazy person :lolz: Right then, here they are. Enjoy! 😀

About the choice

Hirata ssi said, “Saya berdoa, jika suatu saat Laskar Pelangi difilmkan, yang menggarapnya adalah dua orang keriting itu [Mira Lesmana dan Riri Riza].”

“…Laskar Pelangi pernah akan dibuat sinetron, FTV, dan akan dibeli dengan harga yang sangat fantastik untuk dibuat e-book, dll.. Saya tidak pernah tertarik.” Mengapa? “Karena pertimbangan integritas.”

Pada suatu hari, akhirnya Riri Riza mengirim sms kepada Andrea, (“Doa saya terkabul,” said the latter.) kemudian mereka bertemu di sebuah kafe di Bandung, dan “Semakin kuat keyakinan saya bahwa Riri dan Mira adalah orang yang tepat karena mereka membaca Laskar Pelangi dengan cara yang berbeda dengan orang lain.”

“Ini teknis. Ketika seorang anak berangkat sekolah, di tengah jalan dihadang oleh serigala. Di dalam buku, saya tulis harimau. Di film, singa. Kebanyakan orang meributkan serigala, harimau, dan singa, tapi Riri dan Mira melihat danger, obstacle, hambatan bagi perjuangan seorang anak menuju sekolah. Semakin dalam mereka membaca, semakin dalam mereka mendalami dan memahami substansinya. Kadang-kadang saya berpikir orang-orang ini barangkali dalam beberapa hal lebih paham sastra daripada orang sastra sendiri. Saya pikir ini penting karena ada terlalu banyak misperception dalam membaca LP. Dan makin ke sana saya beruntung sekali karena film ini digarap oleh Mira dan Riri…”

Dan saya dan Diah mengobrol sendiri dan memandangi slide cuplikan adegan dalam LP saat Salman Aristo bercerita tentang entah apa, hehehe…

“Saya hanya terlibat dalam film ini sebagai teman ngobrol-ngobrol saja. Saya selalu berada di lokasi syuting pada waktu itu sebagai morale support saja buat temen-temen. Tapi saya sama sekali nggak ikut-ikut harus begini, harus begitu pemerannya karena ya itulah, sejak awal saya sudah berdoa agar bisa bekerja dengan orang-orang ini dan konsekuensinya adalah saya percaya betul dengan integritas mereka. Dan saya nggak tahu apa-apa soal film. Ketika seorang penulis memutuskan filmnya difilmkan, dia harus berani bertoleransi, harus berani menerima energi-energi baru dalam karya itu…”

Penonton lebih judging. Bagaimana?

“Mmm… begini pemikirannya, temen-temen.. Alhamdulillah Laskar pelangi cukup bagus acceptance-nya. Taruhlah misalnya kita mendekati [penjualan] satu juta eksemplar itu nyaris tidak ada artinya, buku itu tidak bergema di mana-mana.

“Di sini, peserta diskusi buku ada segini itu sudah luar biasa. Bayangkan, kita [Laskar Pelangi] mencapai satu juta itu dalam tiga tahun, sudah termasuk yang di luar negeri, tapi belum termasuk yang dibajak lho ya : )… Buku kita belum begitu berdaya.

“Nah, film, kawan-kawan, tahukah dirimu, dapat meraih enam juta penonton dalam satu bulan. Dan bila Laskar Pelangi nanti diputar di televisi, bisa menyentuh empat puluh juta orang Indonesia. Itu tidak mungkin dilakukan sebuah buku. Jadi ini adalah kesempatan untuk menyebarkan value-value dalam Laskar Pelangi dengan satu media yang mempunyai spektrum yang lebih luas. Jangan terburu-buru membuat judgement dan sungguh Laskar pelangi sudah diserahkan pada orang-orang yang tepat…”

Bagaimana dengan penulis skenario?

Salman Aristo said:

“Buat penulis skenario, saat dia memutuskan untuk menerima pekerjaan [mengadaptasi novel menjadi film] itu, dia sudah mengambil resiko untuk dimusuhi pembaca. Jadi ya sudah, percuma. Apapun yang dilakukan, hasilnya akan berbeda. Ini dua medium yang berbeda. Saya nggak akan capek ngomong bahwa ini bukan apple-apple comparison tapi apple-orange comparison. Saya akan bodoh sekali [jika saya] mencoba mengubah apel menjadi jeruk. Ya ini apel dan jeruk, ya biarkan saja.

“Ini pegangan seorang pengadaptasi, sebenarnya, bahwa apa yang membuat saya tertarik dan tergerak untuk mengadaptasi sebuah tulisan menjadi skenario, apa yang membuat saya tergerak dan jatuh cinta untuk mengadaptasi Laskar Pelangi, itulah yang akan saya keluarkan. Masalahnya apakah saya cukup sensitif untuk mengeluarkan apa yang membuat saya tertarik itu. Kalau masalah dimusuhi, sejak menulis kata pertama pun saya tahu akan dimusuhi…”

(and that, made him looked, I mean sounded, so cool :lolz: )

And here’s the part when Andrea Hirata got so sweet and shy :lolz:

A fan suddenly asked him something, I didn’t really got the question because it was drowned by people’s giggles and the laughters (I myself couldn’t stop giggling for almost two minutes or so. I guess :lolz: ). Heboh banget lah pokoknya waktu itu. And our Cicik was so shy, obviously salah tingkah and bowed his head, smiling shyly ^_^

And here’s how he answered that question:

“I am a dreamer, a real dreamer. Saya itu seorang pemimpi yang habis-habisan. Makanya kalau punya pacar nggak betah. Baru sebentar udah sumpek sama saya karena saya pemimpi. Dulu, ada film yang setiap tanggal 30 September selalu diputar. Impian saya sekarang, film Laskar Pelangi ini akan diputar setiap tanggal 02 Mei. Pada Hari Pendidikan Nasional, kita belajar dari sepuluh anak kecil di pulau terpencil di Belitong sana, kita belajar dari semangat mereka, perjuangan mereka untuk memperoleh pendidikan.”

Oke, kalimat terakhir memang nggak seratus persen persis, tapi siapa pula yang menyimak kalimat itu sampai akhir jika pembukanya sudah bikin heboh? ^ ^; *defense mode: on*

Dan tidakkah jawabannya agak nggak nyambung dengan pertanyaannya? ^^;

“Nah, pertanyaan tentang Arai, dan tentu banyak tentang Aling ya, [jawabannya] ada di Maryamah Karpov…” he continued.

Dan dengan kalimat terakhir itu, sesi tanya-jawab berakhir. Dilanjutkan dengan pembagian buku dan sesi tanda tangan. Orang-orang mulai membentuk barisan.

Baru saja dimulai, terdengar pengumuman bahwa sesi tanda tangan hanya sepuluh menit (WHATTT???!!). And the next thing I knew, orang-orang entah siapa itu sudah membawa Andrea pergi dari kerumunan, masuk ke dalam sebuah mobil yang langsung melaju, membawanya pergi sementara para penggemar masih mengikuti sampai mobil itu tak terkejar lagi.

Detik itu, saya menyadari Hirata ssi bukanlah lagi orang yang sama dengan yang berbincang dengan saya dan diah di bawah pohon dengan dengan deretan lampion itu, setahun yang lalu.

Malam itu, kami habiskan dengan menikmati semangkuk cap cay dan teh manis hangat. Berbicara sampai lewat tengah malam. Dan sepanjang sisa malam itu, theme songnya adalah Ska8er Boi dan, sama dengan lagu yang, Subhanallah sekali, tiba-tiba mengalun dari media player saya: Big Yellow Taxi. Alasannya? Hmm, rahasia 😉

Advertisements

29 thoughts on “only reminiscing :)

  1. @ dyra: yupz, that one. Mm, maksudnya he’s so on the spotlight gitu lho *mengutip lagunya Anggun* 😛
    Meski keramahannya nggak berkurang, tapi udah susah untuk bisa ngobrol kaya dulu lagi. A lil bit sad, tapi ya sudah.

    @ mela: iya. Ah, crowded banget soalnya kali ya.. Sayang, ya. Next time, Insya Allah ya Mel 😉

    Ah, baru nyadar! Tanggal cantik, ya 😀

  2. flowflow says:

    ya jelaslah… on the spotlight. sang fenomenal je…

    eh jujur ya, aku mending mikir dari dulu si andrea itu tida menampakkan casingnya. nggak tau ya… mungkin asik aja, nggak dikenal secara fisik setelah ntah berapa lama nulis sesuatu yang fenomenal.

    tau tau kemunculannya baru pas udah tua. hm… let say umur 60an atau 70an. penggemarnya juga udah jadi bapak bapak n emak emak.

    jadi nggak ada lagi yang dikira anak2 esempe…

    wkwkwkwkwkwkw

    *ditimpuk onde onde*

  3. hyaaaaaaaaaaaaa!! **histeris*
    tulisannya keren!
    ceritanya bagus!

    udah ketemu andrea beberapa kali, bahkan sudah berbincang sebelum dia menjadi (seperti) rockstar macam sekarang..senangnyaa…

  4. @ dina: jarang-jarang kan, saya membuat laporan pertempuran eh, liputan. Ternyata gitu ya rasanya, membuat liputan. Agak repot juga karena berusaha menuliskan kalimat seorisinil mungkin. Nggak kaya catetan kuliah yang bisa dikembangin sesuka-suka hati sampe dosennya bilang “Saya nggak pernah nerangin kaya gitu?” dengan bingung 😛

    @ flow: sometimes I wish he never showed up on Kick Andy. At all. What a selfish, selfish thought ^^; !

    It’s always cool, being mysterious. But on the other hand, it was just so nice that he communicated with his fans (honestly, the choice to close his guest book disappointed me a little). But he has explained why so it’s just fine.

    You mean, like Arai? Yeah, in a way it’s really cool, but don’t you know how it hurts, at the same time, Flo? Hehehe, have to stop this curiosity. Because they say it kills the cat (the one that Mraz questions :lolz: ).

    But that’s a gud idea, really. It’s just cool that you bump into someone on the street and you never know that he’s your favorite author. And then someday you just find out and c’est fini! Happy ending! 😀

  5. @ jeng eva: itu, adalah tikaman sayang, my dear 😉

    @ ria: glad that u like it 😀 special for you, deh, hehehe… *yang belum berkesempatan melihat Cicik*

    andrea hirata, rockstar?

    hmpff.. hahaha 😆
    yeah, yeah, that would be… nice.. 😆
    *can’t stop laughing*

    reminds me of sirius black

    😆

    and dian

    😆

    I really can’t stop laughing!!

    hm, guess u’ve found out why the theme song was Sk8er Boi 😀

  6. smoga ketika di filmkan nanti, tujuan dari pemfilmannya tercapai (dapat menyentuh orang lebih banyak lagi) tentu tanpa mengurangi nilai2 positif yang tertulis di bukunya.

    hmmm…jadi kepikiran, gimana ya kira-kira kalau Gola Gong dengan Balada Si Roy-nya muncul dengan Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya di masa yang sama?

  7. Mbak boni, soal istilah rockstar itu juga mengutip sebuah tabloid..
    well, saya bukan pencinta avril, tapi setelah melihat lirik sk8er boy itu..he..he.. i think i know lah.. ^__^

    @ heri, kabarnya gola gong di 90-an juga sangat digilai ya.. mungkin itulah kuasa Tuhan sehingga mereka tak dihadirkan di zaman yang sama.. yaah biar gak bersaing dan punya tempat di hati para penggemar masing-masing..
    90-an juga zamannya bubin lantang kan? **yang membuat saya penasaran dengan karyanya sampai hari ini…**

  8. flowflow says:

    hehehe iya kan…
    pas udah tua baru ngeh, oh ternyata si anu itu penulis buku bla bla bla yang pernah dapet bla bla bla. ya ampuuun…padahal kita sering ngobrol nggak penting bareng pas ngopi pagi2 di kedai sebelah kantor. nah loh… rasanya campur aduk kan. antara, lega, seneng, lucu, sampai ngerasa bodoh aja…

    tapi kalo udah ketauan dulu, ketemu, trus ngobrol, ternyata malah overated.

    tapi nggak juga sih…
    *plin plan*

  9. setuju, setuju. kaya’nya kadar senangnya jadi berlebihaaan banget. happened to me that november, mau minta tanda tangan aja rasanya kaya gitu. sebelumnya, i didn’t care at all what these people talking about this person talking with my best friend, who is he? :lolz:

    ah, if only that would happen to me.. *pleading*
    talking over coffee with ‘we know who’ without knowing that he is who he really is *haiyah! 😀 *

    rasanya kok seperti komedi romantis, seperti you’ve got mail dan semacamnya 🙂

  10. idem ma jeng eva, beruntung sekali loh rasanya bisa ketemu waktu Ikal masih bisa diajakin ngobrol secara personal.

    sayang ngefansnya telad, hihihihi

    *kabuuur*

  11. flowflow says:

    ah… you’ve got mail..
    salah satu film meg ryan favoritku…

    emang si tante ituh…
    ngomel ngomelin toko sebelah, nggak taunya yang selama ini diomelin ya si bos yang punya toko.

    aih… jadi pengen nonton lagi…

  12. sudah gitu, yang selalu ditunggu emailnya, pula 🙂

    tres bien, You’ve Got Mail.

    Toko bukunya itu lho, keren banget! Namanya bagus pula, ‘Shop Around the Corner.’ Jadi pengen pula baca bukunya ^^

  13. flowflow says:

    oh ada bukunya kah?
    baru tau…

    dulu pas lagi seneng2nya sama itu film, sampai wallpapernya di cetak, dijadiin sampul binder…
    ^_^

  14. Bonnie merekam acara waktu itu toh! Aku juga datang waktu itu lohh.. And u’re rite, jawaban Andrea gak nyambung atas pertanyaan Queen (belakangan baru ngeh kalo pertanyaan yg bikin geerr penonton itu terlontar dari bibir Queen. Hahaha 😀 Waktu itu belum kenal sehh…) Tapi kata Queen, waktu itu kamu menghampiri Queen ya?

  15. Andrea a rockstar? After meet him for four times, aku hanya melihat ‘kelelahan’ di sana en jengah atas publisitas itu.. Memang sih, kalau diajak foto bareng, Andrea pasti selalu memberikan his sweetest smile, but he can’t hide it. Mungkin pilihannya untuk cuti dulu dan hijrah ke Himalaya setelah kontrak ini selesai adalah pilihan yg tepat. Aku sendiri lebih berharap bisa ngobrol banyak dengannya person to person, as an ordinary people… Terlalu sering (4 kali itu sering gak yaaa :p) bertemu dengannya and he always under the spot light, membuatku malah ingin menjauh… Dan ketika melihatnya ‘dikerubuti’ seperti itu, bayangan Arai tiba-tiba terlintas in my mind.. Ah, Simpai Keramat, how can I find you….? 😥

  16. Yes I did.. Soalnya ngga enak sudah salah dikira orang lain tapi saya ngga kasih konfirmasi (abis susah njelasinnya ^^;…)

    aku hanya melihat ‘kelelahan’ di sana en jengah atas publisitas itu.. Memang sih, kalau diajak foto bareng, Andrea pasti selalu memberikan his sweetest smile, but he can’t hide it.

    *mengangguk setuju*

    Mungkin karena itu dia melindungi sepupunya habis-habisan..

    Kadang kasihan juga ya, sama Hirata ssi..

  17. rhee-chan says:

    wahh, kalau begitu saya juga berpikir-pikir untuk ‘menganggu’ dua saudara sepupu itu,… membuat orang yang kita kagumi merasa lelah tentu bukan hal yang bijak… **mungkin sekedar mengagumi dari kejauhan lebih baik…**

  18. Rhee says:

    halo edo… kangen juga nih.. (halah kok kangen2an di blog orang..hehehe)…
    pengen cerita banyak hal cuma belum sempat nulis..

    btw, menyambung yang diatas.. setidaknya saya ingin.. sekali saja..sekali saja..sekali saja.. bertemu dengan dua orang sepupu itu.. especially si simpai keramat… 🙂 sekali saja.. tidak dengan niat menganggu..hehehe kapan ya?? .. **impian terdalam saya**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s