Alhamdulillah, finally…

Daisypath Vacation Ticker

Tanggalnya asal, hehehe ^^
Entah apa tanggal 09 Agustus bisa ketemuan lagi sama anak-anak (saya bahkan nggak tahu 09 Agustus itu hari apa. :p) Biarlah, toh masih summer ini. Yaay, musim panaas..! My favorite time of the year… \(^o^)/ *meski tidak pernah menolak, bahkan memuja, berjalan-jalan di atas daun-daun kecoklatan yang rapuh di akhir September*

Well, setelah berhari-hari bernuansa emo dan gloomy, it’s time to SHINE ON!! Whatever, kau boleh saja menentangku terus tapi lihat saja, it’s me here, doing SO FINE!

Hari Minggu kemarin, saya ke Bandung. And that made me feel like… I’m a conqueror!! Yay! Soalnya sudah bertahun-tahun plan ke Bandung itu hanya berupa kalimat-kalimat yang nggak pernah terealisasikan.

Pagi-pagi, saya sudah berbuat dosa sama Rein gara-gara mengajaknya ngobrol terus tentang sepeda biru, sepatu, pita pink, dan seragam smp saya sampai larut malam, yang berakibat telat bangun sementara we were taking the first train yang berangkat jam enam lima belas. Tapi Alhamdulillah taksi kami sampai di stasiun jam enam lewat sedikit, dan akhirnya kami dapat tempat duduk supercozy dan masih sempat pula berfoto-foto memuaskan kenarsisan :p sebelum suara panjang peluit itu memulai perjalanan.

Dan berbuat dosa lagi sama Diandra karena mengirimkan mms berisi foto saya yang ‘diambil sama ***ai’ sebagai jawaban sms-nya (“Jadi pergi ke Bandung?”) 🙂 Karena habis itu dia menelepon dengan super miserable-nya berkata, “Heu~~ kenapa kirim sms…? Aku juga mauuu pergi ke Banduuung~~~”

Lalu seperti biasa akhirnya pembicaraan beralih ke proyek Brownies Rebus Andrea-nya CB, yang mengharuskan CB untuk berangkat pagi-pagi dan meninggalkan begitu saja semua urusan rumah yang bejibun itu. Plus komplain-komplain khasnya kalau CB ga ada (padahal rasio CB ada di rumah dan menyelesaikan semua urusan dari masak sampai mancingin ikan sampai bantuin bersihin lab kalau ada yang karena creativity-nya mencampur-campurkan semua cairan dan meledakkan labu percobaan dibanding CB pergi demi bisnis yang baru saja dimulai itu 90:10 lho ^^ ) Ah, ngomongin apa sih saya ni, jadi ngelantur :p

Ok, back to real world.

Sepanjang perjalanan, saya sama Rein dibuat ber-wow! oleh pemandangan di luar jendela. Apalagi waktu itu bulan keperakan masih terlihat jelas dilatarbelakangi langit pagi yang biru jernih… Subhanallah sekali… Dari sisi kiri, sinar matahari keemasan menembus jendela, di atas meja secangkir coklat hangat, dan kopi. Gerbong kereta pagi itu, adalah yang paling cantik yang pernah saya lihat.

Pasti yang didapat Rein pagi itu lebih banyak dari saya, karena akhirnya saya tidur dan baru bangun ketika keretanya sudah berhenti di Stasiun Bandung (apa sih namanya?).

Dy belum dateng, makanya saya sama Rein muter-muter dulu sambil menikmati udara pagi kota Bandung yang super sejuk itu. Kami sempat mampir di Rail Cafe (yang iklannya selalu muncul di KA teve itu). Mengagumi kereta-kereta dan kota-kota di Eropa yang ada dalam sebuah majalah berbahasa Belanda di sana.

Beberapa menit kemudian, Dy datang. Gadis jangkung itu langsung memeluk saya dan Rein. Nggak ada yang berubah meski udah lama kami bertiga nggak ketemu. Lucunya, komentar Rein, “Kamu kok jadi pendek??” (Saya juga heran, perasaan dulu Dy tinggi banget deh. Masa saya sama Rein tambah tinggi?? 🙂 )

She directly took us to Gasibu (betul nggak ya nulisnya?). Memenuhi request saya yang sebenernya request dari Dian, i.e. pergi ke Gedung Sate dan depannya Gedung Sate (haisyah! 😀 ).

Di sepanjang jalan, penuh dengan orang dan pedagang dan barang dagangan mereka yang aneh-aneh. Yang paling asyik waktu nyobain bola-bola ubi, dan yang paling enak, jus blackberry. Ah, jadi inget ceritanya Dian tentang blueberry jam yang berubah jadi strawberry itu. :))

Karena belum sarapan (Rein insisted not to eat anything because “Aku ke sana mau wisata kuliner :)”), kami sarapan bubur ayam di depan Gedung Sate persis. Enak banget, tapi entah kenapa aku nggak habis.

Nah, yang menarik adalah kejadian setelah itu.

Ceritanya, setelah menempuhi jalan yang panjang dan panas dan penuh sesak itu (plus meluk-meluk kucing dan mengambil belasan foto *euh :’p*), akhirnya kami sampai di Japati 1. Persis di depan gerbangnya. Nggak cuma lewat, lho! *lirik Dian* 🙂

Tiba-tiba Rein bilang, “Dy, pengen ke belakang…”

“He? Waduh gimana, ya?”

“Eh kira-kira boleh nggak ya numpang di sana?”

Akhirnya kami mendekati satpam di dekat gerbang, and politely asked… Jawabnya: “Mmm… sebetulnya nggak boleh.. Tapi buat Teteh nggak pa-pa, deh. Teteh masuk aja ke lobby, nanti di depan sana bilang sana Satpam-nya…”

Boleh masuk? Ke lobby? xD Wow!!!

Grinning widely, we entered the building and… Yah… Begitulah… Tidak bisa tidak, teringat sama seorang gadis yang selalu bermimpi bisa menginjakkan sepatu kacanya di tempat ini, hehehehehe…

It was a really happy experience, mungkin cukup manjur untuk menghasilkan Patronus, hahaha..

Kemudian… singkatnya, kami mampir di sebuah kios kecil. Waktu tanya di mana ada masjid, penjaga kiosnya bilang, “Di atas..”

Ternyata, di atas kios itu ada musholla kecil yang terbuka untuk umum. Dan amazingnya, ternyata musholla itu adalah bagian dari sebuah rumah kos. Jadi, di sekeliling musholla itu ya kamar-kamar. Saya sama Rein sempat duduk-duduk sebentar di bangku kayu, melihat atap dan langit Bandung siang itu, yang Subhanallah, cerah banget!

Di sinilah titik di mana saya merasa perjalanan kali ini beda banget dengan apa yang pernah saya alami sebelumnya. We came into the core of it. Tempat yang kami datangi begitu sederhana, tapi esensi dari kehidupan itu, meski sedikit, kami rasakan. That’s what makes it special.

Begitu juga perjalanan sepanjang Jalan Setiabudi sebelum kami makan siang di Mangkok Ayam. Kami nggak naik angkot atau apapun, dan di sepanjang jalan menikmati semua hal yang bisa ditawarkan deretan panjang pohon-pohon yang teduh itu. Kupu-kupu kecil, bunga-bunga kuning, laba-laba besar dan sarangnya, Dyra dengan fisheye camera-nya…

Dan akhirnya kami sampai di depan bangunan dengan deretan pinus dan koinobori (betul itu namanya, Dy?) di depannya. Menikmati taman buatan di lantai tiga, merasa nyaman dengan pohon-di-tengah-rumah (“Aku catat, ya. Harga temen, deh, tapi nggak gratis,” komentar Rein, sang arsitek 🙂 ), dan akhirnya duduk juga di bangku-bangku kayu, berbagi dimsum, nasi hainan, dan bebek dan ayam panggang.

Hujan mulai turun ketika kami menunggu surabi kami selesai dimasak. Dan perjalanan sepanjang Cihampelas (??) sampai Lengkong Besar terasa cukup lama. Ternyata cukup jauh juga kami tadi berjalan. Nggak terasa…

Sampai di kosan Dy, cuma sempat cuci muka, istirahat sebentar, meng-copy lagu-lagu bagus dari koleksinya yang super keren dan selalu updated itu. (Thanks so much buat Murder He Says-nya Tori Amos, I For You-nya Lunasea, and the most beautiful one: A Million Parachutes-nya Sixpence *peluk-peluk*) Such a cozy place, dengan jendela-jendela berkusen putih dan tanaman-tanaman di halaman samping. Dan airnya… Heavenly… 🙂

Terburu-buru ke Stasiun (kereta kami berangkat jam lima seperempat, dan waktu itu sudah jam lima kurang sedikit), mampir sebentar membeli oleh-oleh (ada brownies blueberry!!), senang melihat GKN… dan akhirnya, stasiun.

Hari yang sangat, sangat menyenangkan. Sayang waktunya terbatas. Masih banyak tempat yang ingin dikunjungi, dan masih banyak orang yang sangat ingin ditemui, I hope next time…

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit keinginan-keinginan kecil itu menjadi nyata. Thanks so much for Rein, who helped me turn those sentences into reality, and Dy, for being so, so, nice with me and Rein all the day (meski hampir ikut terbawa ke Jakarta ^^).

Pour Diandra et Nina… we still keep that promise, right? I’m counting down the days =)…

Buat Ambu & Eni… maaf kemarin tidak berkunjung… Mudah-mudahan suatu saat bisa bertemu.. =)

Advertisements

7 thoughts on “Alhamdulillah, finally…

  1. chang'e says:

    ya, cepet selesaikan skripsinya ^^ !

    terus kita rame-rame pergi yang jauh…

    next destination: Belitung Timur! (Insya Allah, amin..) 🙂

  2. chang'e says:

    sayaa..! *angkat tangan tinggi-tinggi*

    ayo, bareng-bareng lagy, dyra, siapa tahu kita bisa dapet privilege lagi kaya kemaren, hahaha 😉 your charms nii~

    tapi kapan, ya? kaya’nya harus nabung di stoples yang ada tulisannya ‘Belitong’ tiap hari, mengikuti jejak pak ikbal, hihihi… 🙂

  3. chang'e says:

    Oh ya, sebetulnya, awalnya diah yang pertama kepingin pergi, “Sebelum filmnya rilis dan banyak orang dateng ke sana dan pantainya jadi rusak” 🙂

    gimana, jeng diah? kapan? 😉

  4. chang'e says:

    hahahaha.. iya, udah mulai tuh!
    mana *katanya, ya* mas andrea-nya dah ga sabar kan, nunggu filmnya jadi

    time is running out…!! xD

    sst, apa nanti-nanti aja, sekalian waktu a*** dah pulang? ;p hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s