learning to be lupin

Dulu, seorang sahabat pernah menulis sebuah kisah untuk saya. Saya masih ingat salah satu kalimat di dalam cerita itu (diucapkan oleh Remus Lupin, lhoo πŸ˜‰ ). Kira-kira begini,

“Jika mereka tidak menerimamu, cobalah kembali ke Hogwarts. Mengajar Herbology, mungkin? Dumbledore selalu terbuka untuk orang seperti kita..”

Akhir-akhir ini saya sering berpikir, menjadi pengajar adalah sebuah pekerjaan yang sangat positif. Dan sangat menuntut. Mengapa? Yah, salah satunya karena sebagai seorang transferer of knowledge, kita harus punya lebih banyak pengetahuan untuk ditransfer. Memaksamu untuk terus dan terus belajar. Menarik, ya ^^ ?

Dan masih ada lagi yang lainnya. Pekerjaan ini menuntutmu untuk berperilaku baik. Sangat baik, malah. Ada beban moral yang diletakkan di pundakmu ketika kau akan menyampaikan ilmu pada orang lain. So you have to try and learn to be a good person. Someone better, at least.

Beberapa waktu lalu, saya sempat kembali ke kampus. Duduk di kelas tempat saya dulu mendengarkan kuliah tentang Etika, menyimak presentasi teman-teman tentang hotel valuation, bertanya hal-hal tidak penting pada kuliah hukum, surat-suratan dengan Dian πŸ™‚ , dan mencatat. Namun, ada yang berbeda sekarang. Saya memang duduk di sana, menyimak pelajaran yang diberikan, dan (garis bawahi ini, Indra) mencatat. Tapi, kali ini yang saya catat adalah bagaimana pelajaran itu diberikan. Bagaimana dosen saya mentransfer pengetahuan pada mahasiswa-mahasiswanya.

Menantang, bahwa kemampuan kita untuk menyampaikan materi dengan rileks dan dalam pace yang tepat, diuji. Mengulang dan mengulang bagian yang fundamental. Mengumpulkan petunjuk-petunjuk yang mengarah pada definisi. Membuat mereka berbicara, menyampaikan pendapat, dan menanyakan hal-hal yang implisit, namun menggelitik. Menyampaikan hal-hal rumit dengan sederhana. Memperkenalkan diri dengan cara yang rendah hati namun berkesan.

Semuanya adalah tentang berpikir secara sistematis. Learning how to be patient. Dan sebetulnya, keep learning to fly itu menyenangkan, lho!

^_^

ditulis sebelum istirahat siang, ketika udara luar biasa dingin (hanya perasaanku saja?), saat aku sedang berusaha memotivasi diri sendiri.

pour Ambu: Maaf ya kalo kutipannya keliru. Makasih banyak untuk fic-nya πŸ˜‰

pour Kay: Bon anniversaire πŸ™‚

Advertisements

3 thoughts on “learning to be lupin

  1. chang'e says:

    ^ ^ ah senangnyaa… ada yang baca coret-coret Rou.

    Rou?
    Kalo masih anak kecil yang manja itu, pasti dengan manyun dan bibir yang dikerucutkan bilang, “Bukan Lou, Ambu… Chang-e..!”

    Hihi, tapi kan sudah twenty something ya, jadi nggak mungkin lagi bilang gitu.

    Hihihi, sebetulnya cuma berusaha menarik perhatian pada nama yang diganti itu saja. Tapi sama sekali enggak nolak kok dipanggil Rou.. panggilan yang sangat kusukai *hugs semua orang yang masih suka manggil Rou smp sekarang*

    ^^ Ambu, that’s soo.. unforgettable…

    Btw, iya nih, ganti-ganti mulu. Abis gampang bosen Rou-nya.. 😦

    Makasih ya Ambu ^^

    Buat Nadya: ^-^ thank u ya, Nadya selalu menghujaniku dengan pujian..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s