When I Remember You

Aku kangen SMA telu. Aku kangen kalian.

All songs, all memories of places, people, this morning are flowing, flooding my head.

The reasons why I’m here now, why I’m taking another difficult path..

I guess deep in my heart I still love that school so much. It has become one of the reasons to realize dreams, maybe not just for me but also for many people.

I am a person who tends to stay locked up inside her room surrounded by her favorite things. I need a really strong reason to go outside the house. And school, school is something that make you go out of your home. And meet people. And enjoy the view.

Maybe that’s why I have always fallen in love with schools.

I even miss your big, tall, shadowy trees and the forest orchids up in their tallest branches.

On the 68th O.D.

My head is filled with many stupid things it feels heavy. Usual office stuffs. Only today there are some problems that can make my day(s ahead) worse if I choose to make a fuss about it. Glad that some people are so kind like directly texted encouragement to me, giving advice that this is something we can learn about: not to act the same way when we are in that position.

All this makes me think about one thing again. I just figured it out yesterday or this morning. It’s important to have friends, things, and activities that you love and make you happy. It’s helpful to think about nice things like green tarik tea (yes, green-tarik-tea!), experimenting with praline making in weekends, crochet pictures, and kind invitation to “come and visit Hokkaido someday!” when some people say rude things to you.

Yes, I am irritated. Yes, I am a bit, or not a bit, angry. Yes, it makes me feel some kind of hatred toward some person.. It’s just I’m not going to let it bring me down.

Another good thing? It makes me write again here🙂 So, who’s the winner now?

And thanks for the fritters, whoever brought it here for us all. Happy Oeang Day!

Chasing A Rainbow

When I sit here, typing.. Every line, every paragraph.. Every single thought..

I slowly realised.. Finally I really do it. Finally my time has come.

I never fought for anything like this in my life. And though many times I have said “I’ve had enough. I’m so tired. Let me rest..”, every time they said, “You can make this better,” I just get up and fight once more. Again and again.

And I’m happy for that. I’m happy for myself.

English Proficiency Test

Beasiswa Australia Awards Scholarship/AAS (dahulu Australia Development Scholarship) adalah beasiswa yang keseluruhan prosesnya membutuhkan waktu cukup lama, hampir satu tahun. Pengumuman pertama mengenai dibukanya beasiswa ini biasanya diterbitkan sekitar bulan Februari dan penutupan pendaftaran adalah di bulan Juli. Namun demikian, deadline ini lebih awal yaitu sekitar bulan Juni untuk kandidat dari institusi-institusi yang termasuk dalam targeted sectors, di antaranya Kementerian Keuangan.

Waktu yang cukup lama, yaitu sekitar empat-lima bulan sejak dibukanya pendaftaran hingga batas akhir penyampaian aplikasi sering membuat kandidat terlena. Setidaknya ini yang terjadi pada saya. Dalam waktu dua bulan pertama saya bisa dibilang belum mengisi aplikasi pendaftaran saya dengan serius. Hanya setelah berulang kali diingatkan oleh suami dan mengingat ribetnya proses yang harus dijalaninya tahun kemarin, saya mulai benar-benar mengangkat pena dan memutar otak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam formulir setebal dua puluh tujuh halaman itu.

Tapi ada satu hal lagi yang sangat penting, yang biasanya tertunda-tunda oleh pekerjaan ataupun kesibukan di rumah: tes bahasa Inggris.

Saya ingat, suatu pagi beberapa tahun silam, saat saya masih belum lagi mendapatkan ijazah strata satu saya namun sudah begitu inginnya mengambil master. Waktu itu saya baru saja online untuk mengecek email dan updates dari teman-teman saya, tiba-tiba ada suatu kotak kecil di sudut kiri bawah layar, dengan nama-nama universitas terbaik di seluruh dunia, berganti-ganti. Belum habis kekaguman saya, muncul sebuah kalimat dalam bahasa Inggris yang berbunyi, “Hanya ada satu tes yang memungkinkan Anda untuk masuk ke dalam universitas-universitas ini. TOEFL.”

Ya, sebuah iklan TOEFL yang sangat menarik. Very inspiring. Betul juga, kata saya waktu itu, berapa pun IPK-mu, tanpa tes itu kamu tidak akan bisa mendaftar untuk sekolah ke luar negeri.

Nah, kembali ke AAS. Beasiswa ini juga mensyaratkan nilai kecakapan bahasa Inggris minimal untuk bisa mendaftar, yaitu IELTS 5.0, 500 untuk Paper-based TOEFL, atau 61 untuk internet-based TOEFL untuk program Masters. Untuk PhD lebih tinggi lagi, yaitu IELTS 6.0, 530 untuk Paper-based TOEFL, atau 71 untuk internet-based TOEFL.

Di kantor saya, untuk mengajukan nama sebagai kandidat kami harus menyampaikan skor TOEFL sekitar bulan Maret yang lalu. Jika kebetulan Anda pernah tes satu atau dua tahun yang lalu, bersyukurlah sebab hasil tes itu masih sah untuk mengajukan nama sebagai kandidat. Namun, untuk yang belum pernah tes atau nilainya didapat lebih dari dua tahun yang lalu, biasanya mereka mengajukan nama dengan skor perkiraan, kemudian baru menjalani tes sesudahnya. Meski demikian, sampai saat tulisan ini dibuat, ada teman-teman yang baru menjalani tes seminggu yang lalu, bahkan belum menjalaninya, padahal ada waktu sekitar empat sampai lima bulan sampai penerimaan aplikasi ditutup.

“Jangan seperti saya kemarin,” begitu selalu suami saya bilang. Dia mengambil waktu yang hampir mepet untuk tes TOEFL. Dan dia nyaris tidak bisa memasukkan aplikasi karena nilainya tidak mencukupi.

Suami saya jarang menggunakan bahasa Inggris, sebab itu dia merasa tidak yakin dengan kemampuannya. Sebab itu, dia memperhitungkan waktu di mana dia bisa mengambil dua kali tes sebelum batas waktu penyampaian aplikasi ditutup. Sebab Anda tahu kan, dalam bulan yang sama, seseorang hanya boleh menjalani tes TOEFL satu kali (saya tidak tahu apakah di tempat lain sama, tetapi begitulah peraturannya di Aminef).

Saya juga ikut tes waktu itu, sebab saya juga ingin mendaftar AAS seperti dia. Skor saya lebih tinggi beberapa point dari skornya, namun akhirnya dia yang bisa mendaftar, dan Alhamdulillah, lulus. Saya tidak bisa memasukkan aplikasi saya karena terbentur peraturan, but it’s another story J .

Seperti yang sudah saya sebutkan, akhirnya kami mengikuti tes TOEFL di Aminef. Seminggu kemudian, kami mengambil hasilnya. Betapa kecewanya dia ketika tahu skornya kurang tiga point saja dari batas minimal.

Kami sampai meminta informasi ke Bagian Pengembangan SDM, bertanya apakah bisa mendaftar untuk beasiswa lain yang skor TOEFL minimalnya lebih rendah dari AAS. Ternyata tidak boleh. “Kamu sudah memasukkan namamu ke Piala Api, dan Piala Api ngga mengenal yang namanya mengeluarkan kembali nama yang sudah dimasukkan,” kira-kira begitulah jawabannya, hehe.

Begitulah, dia pun mengulang kembali semua proses tes dari awal. Mendaftar online, mentransfer biayanya, mengambil nomor ujian, dan belajar mati-matian. Kebetulan waktu tes yang pertama adalah di akhir bulan Mei, sehingga awal Juni dia masih bisa mengikuti tes lagi dan masih sempat mengumpulkan aplikasinya di akhir bulan.

Minggu kedua bulan Juni, saya menemaninya ke Aminef untuk mengambil hasil tesnya. Alhamdulillah, skornya naik enam point menjadi 503. Cukup untuk memasukkan aplikasi. Kami merasa seperti lolos dari lubang jarum. Saya selalu bilang, rasanya seperti Tuhan memberinya skor itu, cukup tiga point lebih tinggi dari batas minimalnya. Kamu tidak perlu banyak-banyak, sedikit saja sudah cukup untuk bisa masuk. J

Persoalannya, tidak semua orang seberuntung dia. Let’s face it, even I always think that I am not as lucky as he is and feel envious afterwards :p Dan jaaauh lebih baik jika kita tidak perlu mengalami deg-degan di akhir waktu, apalagi kecewa apabila kita tidak bisa memasukkan aplikasi hanya karena skor TOEFL kurang dari yang disyaratkan. Trust me, pihak pemberi beasiswa itu tidak mentolerir satu point lebih rendah pun dari 500 atau 530 itu.

Ada waktu empat sampai lima bulan sebelum batas akhir penyampaian aplikasi. Jika Anda belum punya skor TOEFL/IELTS/Pearson untuk mendaftar beasiswa ini dan anda segera mengikuti tes setelah Anda membaca pengumuman dibukanya beasiswa ini, Anda masih punya waktu yang cukup untuk meningkatkan skor Anda dan tes lagi seandainya Anda belum mencapai nilai yang dipersyaratkan. We don’t need that additional deg-degan, with so many things to prepare for this scholarship.

Okay, it seems like I have talked too much. So, whether you have finished doing your application form and ready to submit it (or even have submitted it months ago), or you’re going to sit your exam this week, I wish you good luck!

Love,

Chang’e

I think…

People should see beyond what they do everyday. Call me opportunistic or something, but really, if you see your job from different point of view, it can bring you anywhere you want to. Do you know that every single step you take to a meeting, every single word you type, it can help you reach your dream. You just have to see it from a different angle.

This is everything I can say about what happened this morning. Because I got disappointed. And saying more bad things about people won’t do me any good. (Forgive me God because I have done so.)

Fiksi Anak-anak dan Masa Kecil

Image

Semalam saya pergi ke Gramedia sama Ayahnya Alice. Seperti biasa, dia mencari komik kesukaannya, Kariage Kun edisi terbaru (yang sayang sekali belum terbit), dan saya berputar-putar tidak jelas. Saya ingin mencari buku anak-anak yang bagus.. Atau tepatnya, novel anak-anak?

Saya adalah penggila novel anak-anak. Roald Dahl, Otfried PreuBler, dan Astrid Lindgren adalah favorit saya. Mungkin ini banyak sekali berkat pengaruh dari M.S. dan Bu Gabriel, orang Australia yang tinggal di belakang rumah Nenek saya waktu kami masih kecil.

Beruntung sekali anak-anak yang masa kecilnya sempat dekat dengan Bu Gabriel ini (nenek saya dan mbah-mbah sekitar memanggilnya dengan Bu Gabrel, hihihi). Dia mengenalkan buku-buku bacaan yang bagus-bagus pada anak-anak, mengajari mereka bahasa Inggris (TOEFL kakak saya yang tinggi itu mestinya dimulai dari sini🙂 ), permainan-permainan yang aneh-aneh dan macam-macam lagi hal yang menyenangkan.

Saya hanya bisa ikut menikmati yang menyenangkan-menyenangkan itu waktu liburan sekolah. Main di malam hari, ke pasar malam, mewarnai pola-pola, membuat lingkaran-lingkaran dengan penggaris, mencelup-celupkan kaki di kolam kecil di teras yang suka ada telur kodoknya itu, hanya sebagian kecil dari kesenangan masa itu.

Oke, kembali ke buku cerita. Saya rasa, buku yang terbit pada masa 1980-2000-an, lebih bagus dari yang diterbitkan saat ini. Di Gramedia kemarin, saya nyaris tidak bisa menemukan buku tebal untuk anak-anak seperti yang saya ingin kecuali mungkin Diary Bocah Tengil. Roald Dahl ada, tapi dalam satu paket yang sudah tidak lengkap tapi tidak boleh dibeli satuan (terus kenapa bisa tidak lengkap begitu, Gramedia? Bukunya pada ke mana?).

Padahal masih banyak karya Roald Dahl, Astrid Lindgren, Otfried PreuBler yang belum diterjemahkan (Kangen sekali dengan terjemahannya Agus Setiadi).

Saya jadi berpikir, apakah karena tidak ada lagi yang mau menerjemahkan buku-buku itu? Lalu, bagaimana sih caranya menerjemahkan buku? Apakah perlu izin dari penerbit aslinya?

Masa saya sendiri yang harus menulis buku anak-anak? (Hihihi, ini akhirnya menjadi keinginan saya juga, setelah beberapa hari ini bersama Dina tergila-gila sama ilustrasi buku anak-anak).

edit to add:

Saya baru saja mencari via Google tentang Listiana Srisanti, penerjemah Harry Potter dan hampir semua buku yang selamanya adalah bagian yang memperindah masa kecil saya. I never knew that she had passed away on June 24, 2010. This is a big loss for me. I always, always, and always adored her works. Harry Potter wouldn’t be the same without her.

Dear Listiana Srisanti, thank you so much for all beautiful words you had brought into our life, as children and even now when we are older. In those books you live forever.. :,)

Aside

Inspiration

“Have regulars hours for works and play, make each day both useful and pleasant, and prove that you understand the worth of time by employing it well. Then youth will be delightful, old age will bring few regrets, and life will become beautiful success.”

– Louisa May Alcott